A Piece of Regret

a4c55f77431da8b5090b97ec2e6f2912

Hidup untuk mewujudkan mimpi atau mewujudkan mimpi untuk hidup? Jika kau masih bisa membedakan dua hal tersebut, maka otakmu masih normal, masih waras. Dan yang jelas kamu tidak putus asa seperti aku. Tapi siapa peduli, toh hidup hidupku. Bagiku mimpi untuk hidup atau hidup untuk mimpi tidak penting lagi, yang jelas aku hanya ingin lepas dan bebas dari semua ini.

Halah . . . aku yakin sikap mereka semua palsu. Mereka bersikap manis dan seakan mendukungku, padahal aku tau, diam-diam mereka mengejek dan menertawakanku. Aku muak dengan keadaan ini, aku muak harus bersikap seakan aku baik-baik saja karena pada kenyataanya, aku tidak baik-baik saja dan bahkan putus asa.

***

Brakkk . . . . Nur membantingsepuluh amplop cokelat begitu saja, dia tidak lagi peduli dengan nasib isi amplop-amplop tersebut. Nur tak peduli dengan kamar kosnya yang sudah mirip kamar tak berpenghuni. Nur marah pada semua, ah tidak, sebenarnya Nur marah pada dirinya sendiri. Nur marah pada dirinya yang dulu terlalu percaya diri. Percaya bahwa dia akan bisa mewujudkan semua mimpinya dan bikin bangga keluarganya. Bagaimana tidak, IPK kuliahnya sempurna. Bahkan ketika wisuda, Nur duduk di deretan paling depan dan memakai selempang kebanggaan bertuliskan cumloude. Saat itu senyum Nur penuh keyakinan. Nur yakin dia akan segera dapat pekerjaan sesuai jurusannya dan segera mempunyai penghasilan sendiri. Tapi sayang, saat itu Nur tidak tau bahwa hidup atau bermimpi tidak semudah mendapat IPK tinggi.

“Sudah kukatakan, lebih baik kau melupakan semuanya dan ikut saja denganku. Jangan khawatir, aku akan menuntunmu. Kau akan bahagia tentunya, karena kau tidak lagi perlu berbohong pada keluargamu atau teman-temanmu,” Gadis Hitam itu menyeringai di balik penutup kepalanya. Dia tetap menyeringai walau tau Nur tidak akan melihatnya, dia geli akan kelakuan Nur yang dari tadi mondar-mandir di kamar kosnya tanpa menghasilkan apa-apa.

“Diam! Aku sedang berfikir. Dan lagi, kenapa kau datang kesini? Aku tidak membutuhkanmu kau tau!” Nur membentak Gadis Hitam tanpa sedikitpun menoleh padanya.

Cih . . . aku datang ke sini bukan karena kau membutuhkanku, aku kesini semata-mata karena ingin menolongmu. Tidakkah aku terlalu baik padamu?” lagi-lagi si Gadis Hitam menyeringai. “Baiklah, aku tidak akan mengganggumu, tapi setidaknya kau bisa ceritakan apa yang membuatmu memanggilku.

“Sudah kukatakan, aku tidak memanggilmu.” Nur mulai geram pada si Gadis Hitam yang dari tadi terus memancing emosinya dan menambah runyam suasana.

“Baiklah . . . baiklah, jika kau tidak mau cerita padaku, sebaiknya aku kembali. Tapi taukah Nur, jika kau sampai bisa mendatangkanku ke hadapanmu, percayalah, ada yang tidak beres pada otakmu.

Ketika si Gadis Hitam hendak beranjak pergi, tanpa sadar Nur berteriak menghentikannya. “Apa yang harus kulakukan? Katakan apa yang harus kulakukan!”

“Jadi kau mau aku memberikan saran tanpa kau mau cerita apa yang sedang kau alami? Baiklah . . . aku memang tau semua yang terjadi padamu. Tapi, jika kau ingin meminta saran dari seseorang, bukankah seharusnya kau harus cerita dulu apa masalahmu padanya? Dengan begitu, paling tidak orang akan berfikir bahwa kau mempercayainya. Bukankah harusnya seperti itu cara kerja di dunia ini?”

Dengan ragu-ragu Nur menatap Si Gadis Hitam, walau kenyataanya dia hanya bisa memandangi sosok setinggi dirinya yang tertutup jubah hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Kau tau, minggu depan orang tuaku akan datang dari Riau ke sini. Mereka mengatakan bahawa mereka sangat merindukanku. Tidakkah kau pikir hal itu sangat menakutkan bagiku.” Nur mulai terlihat panik.

“Bukankah lebih mudah jika kau menghadapi mereka saja?” Si Gadis Hitam berbicara tanpa peduli pada raut Wajah Nur yang mulai pucat.

“Mana mungkin? Ini tidak semudah itu. Bagaimana caraku meghadapi mereka? Wajah seperti apa yang harus aku tunjukan pada mereka? Bagaimana aku akan menjelaskan pada mereka bahwa aku belum juga mendapatkan tanda aku akan segera mendapatkan pekerjaan?” Nur berkata dengan putus asa.

“Kau tau Nur, aku bisa menjadi jahat ataupun baik. Saran seperti apa yang ingin kau dengar dariku, sebagai seorang yang jahat atau baik?

“Aku ingin kau menjadi keduanya. Jawablah aku dari kedua sisi yang kau punya itu. Apa yang harus aku lakukan.”

“Kau serakah Nur. Tapi tak apa memang begitulah manusia. Dengarkan! Menurut sisi baikku, kau hadapilah mereka. Ceritakan semua apa adanya. Kesulitanmu dan segala kekawatiranmu. Mereka pasti akan mengerti, mencari kerja memang susah dan sangat melelahkan.

“Kau benar, mungkin mereka akan menerima dan mendengarkan semua keluh kesahku, tapi itu pasti cuma saat mereka ada di depanku. Bukankah katamu dulu, manusia selalu punya seribu wajah? Dengan kata lain kita tidak boleh benar-benar mempercayai mereka bahkan jika mereka saudaramu sendiri.”

Ah, aku yang salah. Kau terlalu mempercayaiku. Tapi dulu saat aku mengatakanya, aku sedang menggunakan sisi jahatku.”

“Terserah aku tidak peduli, sekarang apa saranmu menurut sisi jahatmu?” Nur memandang Si Gadis Hitam dengan penasaran.

“Baiklah Nur, kau tau adakalanya semua tidak berjalan sesuai keinginan. Tidakkah kau lelah, tidakkah kau ingin menyerah? Lihatlah lamaranmu pada amplop-amplop itu? Berapa kali kau melamar kerja sana-sini. Apakah ada perusahaan yang memanggilmu?”

“Ada, ada tentu saja.” Nur menjawab ragu-ragu.

“Memang ada, tapi pada akhirnya kau hanya sampai pada tahap interview. Dan, lagi-lagi kau akan terus mengulang siklus ini. Aku tau kau sudah terlalu lelah, maka percayalah ini waktumu untuk menyerah. Jadi, ikutlah denganku.”

Nur mulai terlihat begitu panik. Dia kembali mondar-mandir di kamar kosnya sambil menggigiti kuku jari-jarinya. “Lalu apa yang akan aku dapat jika aku mengikutimu?”

Dengan yakin dan bangga si Gadis Hitam menjawab, “Kau akan mendapatkan ketenangan abadi. Kau tidak perlu memikirkan harus mewujudkan mimpi untuk hidup, atau hidup untuk mewujudkan mimpi. Tapi yang jelas, kau akan terus hidup di dunia ini tanpa keluarga atau teman yang bisa mengejek atau menertawakanmu. Yang ada, mereka hanya akan merasakan apa yang selama ini kau rasakan, bahkan lebih. Jadi ayolah ikut denganku.”

Nur dengan sedikit ragu bertanya, “Benarkah, bukanya tadi kau juga bilang aku lebih baik menghadapi mereka saja?”

“Nur, sepertinya kau sudah lupa apa tujuanku kesini. Tujuanku kesini adalah untuk membimbingmu mengikutiku. Karena keputus asaanmu telah memanggiku. Hanya aku yang peduli padamu dan hanya aku yang bisa membebaskanmu dari semua kegelisahan dan masalahmu. Jika tadi aku berkata lebih baik hadapi mereka karena itu hanya aku ingin mengatakanya saja. Tapi aku yakin, kau juga tau bahwa kau sebenarnya sudah lelah dan ini waktumu untuk menyerah.”

Dengan mantap kini Nur berkata, “Baiklah aku akan mengikutimu, tunjukkan caranya dan bimbing aku.”

“Itu tidak sulit, kau hanya harus memasang semua yang sudah tadi kau beli di kamar mandi. Seperti yang sudah aku tunjukkan caranya. Kau tau, kurang dari sepuluh menit kau akan segera lepas dari semua penderitaan ini.”

***

Sekarang setelah semua itu aku tahu, bahwa bukan cuma manusia yang tidak bisa dipercaya. Bahkan ada mahluk yang benar-benar jangan seklipun dipercaya. Ya benar, mahluk ciptaannya yang suka menggoda. Karena godaan mahluk tersebut aku sudah bertahun-tahun ada di tempat ini. Aku tidak bisa beranjak pergi kemanapun. Aku bahkan selalu mengulang merasakan setiap langkah yang aku lalui untuk sampai ketempat ini. Apa yang dilakukan si Gadis Hitam si penggoda? Dia hanya sesekali datang sambil mengatakan, aku manusia bodoh tak beriman.

Aku selalu menyesali keputusanku dulu, di mana aku memutuskan mengikuti Gadis Hitam. Aku berakhir dengan ditemukan tergantung di kamar mandi kosku. Memang benar apa yang Gadis Hitam katakan, setelah itu keluargaku bisa merasakan penderitaan yang aku rasakan, bahkan mereka lebih menderita dariku. Mereka sangat menderita karena melihat anak kebanggaan mereka, anak yang diharapkan menjadi cahaya bagi keluarga terbujur kaku dengan tali dilehernya. Sungguh, jika bisa aku ingin kembali kemasa di mana aku tidak menjadi manusia bodoh yang mudah menyerah dan putus asa.

Jangan sekali-kali kau mengikuti jejakku. Gantung diri. Karena jika kau mengikutinya, kau akan terus merasakan sakitnya gantung diri sampai waktu kapan tak tahu, seperti aku. Jujur itu sangat menyakitkan. Bila kau tak percaya, biar aku ceritakan. Jika kau sudah memasang tali di lehermu dan telah melemparkan bangku ganjalan kakimu, kamu baru akan sadar, kau sudah terlambat untuk berhenti. Karena yang tubuhmu bisa lakukan hanyalah hilang kesadran dan kejang-kejang kesakitan. Taukah apa yang selanjutnya kau rasakan? Kau akan meronta kesakitan karena tali yang mencekikmu semakin terasa menyesakkan. Kau tidak bisa bernafas. Kau akan merasakan nyeri yang luar biasa menjalar keseluruh tubuhmu. Saat itu kau pasti akan berharap ada seseorang yang datang menolongmu, tapi terlambat, karena kau tidak lagi mampu berkata-kata. Setelah itu kau akan merasa sangat tersiksa karena diafragmamu minta diisi udara tapi kau sudah tidak mampu melakukannya. Percayalah itu sangat menyakitkan. Dan taukah kau apa yang lebih menyakitkan? Yang lebih menyakitkan tentu saja setelah kejadian itu. Karena setelah kejadian itu, keluargamu akan melihatmu kehilangan nyawa dengan cara yang sangat mengenaskan. Matamu melotot dan lidahmu terjulur kaku. Semua lubang tubuhmu mengeluarkan cairan tak mengenakkan, dan tentu saja, wajahmu berubah kaku dengan warna biru kelabu yang sangat menyeramkan. Sungguh itu sangat menyakitkan.

***

Terima Kos Putri

Kamar Mandi dalam

Fasilitas lengkap: Wifi, Ac, dan Perabot lengkap

Murah 1jt / tahun

Hubungi: 085436321xxx

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s