Pesan Permohonan

697116-crop

“Jika kau percaya akan sesuatu dengan keteguhan dan ketulusan, maka yakinlah, semuanya tidak akan sia-sia.”

       Fantasi. Ya, orang bilang hidupku penuh dengan fantasi. Aku adalah seorang perempuan yang percaya dengan mistos-mitos yang biasanya hanya dipercaya oleh anak kecil. Selain bekerja, waktuku pun lebih banyak dihabiskan untuk menonton ataupun membaca kisah-kisah manis nan romantis. Walaupun umurku sudah dua puluh enam tahun, aku masih sangat hobi membaca komik Shoujo yang biasanya menyajikan kisah cinta yang pasti akan berakhir dengan bahagia. Aku juga sangat mempercayai kepercayaan jepang mengenai benang merah. Menurut mereka, setiap manusia di bumi memiliki benang merah masing-masing yang nantinya akan terhubung dengan benang merah dari jodohnya. Jika sudah takdir, tidak peduli apapun mereka pasti akan bersatu. Waktu ataupun alam tidak akan pernah bisa memisahkan.

Bahkan, kata teman-temanku, hidup dan kisah cintaku juga penuh dengan drama. Bagaimana tidak, aku adalah seorang wanita yang menikah dengan teman masa kecilku.  Jika kalian suka membaca kisah-kisah manis sepertiku, mungkin kalian bisa sedikit menebak bagaimana kisah cintaku. Yep, benar. Kisah cintaku juga mengalami yang namanya perang harga diri, di mana kita berdua mementingkan harga diri dan gengsi yang akhirnya berujung saling menyakiti. Walaupun sebenarnya kita saling peduli, kita berpura-pura saling mengabaikan. Walaupun sebenarnya sakit dan tak rela, kita berpura-pura saling mendukung jika salah satu dari kita menerima ajakan kencan.

Lalu, bagaimana kita bisa menikah? Sungguh pertanyaan yang sangat bagus. Itu karena kita berdua sudah sangat lelah untuk terus saling menyakiti. Salah satu dari kita akhirnya mengalah dan berhasil menyadarkan yang lainnya bahwa kita berdua saling mencintai. Jika kalian menebak akulah yang mengalah, kalian salah. Karena bukan aku, tapi Adrik. Ya, Adrik temanku yang berharga sekaligus orang yang paling aku cintai. Setelah pengakuan cintanya, dengan berurai air mata aku langsung memeluknya. Saat itu juga, kita mengikrarkan bahwa kita adalah sepasang kekasih yang tidak terpisahkan. Dan akhirnya, setelah satu tahun kita menjalani masa yang sangat manis dan romantis, kita pun resmi menikah.

Ini adalah hari ke-3 setelah kami mengucapkan janji suci. Kalian pasti bersorak, yey… selamat, dan berpikir sekarang aku sedang sangat bahagia. Namun sayang, tebakan kalian salah besar. Sekarang aku sedang sangat bersedih. Duniaku baru saja hancur. Cahaya kehidupanku baru saja pergi bersamaan dengan tubuh Adrik yang dimasukkan ke peti mati. Dunia terlalu kejam bukan? Baru saja beberapa hari lalu kita semua bahagia dan penuh canda tawa, kini kita semua penuh dengan air mata. Lebih parahnya lagi, Adrik pergi karena keegoisanku. Andai saja kemarin aku tidak memaksanya untuk menjemput adikku di bandara, mungkin Adrik masih hidup. Mungkin Adrik tidak akan mengalami kecelakaan yang akhirnya merenggut nyawanya.

“Fio sayang, aku tahu yang apa kamu rasakan, tapi berhentilah menyalahkan dirimu. Kecelakaan Adrik bukan karena dirimu, dan lagi, siapa yang bisa menghindar dari takdir?” Kata takdir bisa sedikit menarik perhatianku. Aku menatap ibuku yang berdiri sambil membawa nampan berisi sup kentang untukku. Tatapan iba dan sorot mata hangatnya sama sekali tidak membantu mengangkat kesedihanku. Aku hanya terdiam dan kembali mengutuk diri sendiri.

Entah berapa lama aku menangis dalam kegelapan. Lima jam, tujuh jam? Aku tidak tahu. Yang jelas, semalam aku menangis sampai air mataku tidak bisa keluar lagi. Aku terus memikirkan Adrik sampai rasanya otakku menjadi kosong dan mati. Aku terus memikirkanya sampai aku pun tak tahu kapan aku berhasil memejamkan mata, karena tiba-tiba, sekarang sudah pagi.

Setelah otakku terjaga, aku tidak bisa memikirkan hal lainnya selain Adrik. Aku masih tidak percaya, orang yang selama ini selalu ada di sisiku, kini sudah pergi ke alam yang berbeda. Aku berjalan ke luar kamar, namun rumahku masih sepi. Oh, masih pukul enam ternyata. Mungkin semua orang masih tertidur. Mereka pasti sangat lelah karena acara pernikahanku dan dilanjutkan,… dengan berat hati aku mengatakan, acara pemakaman suamiku. Sial, kepalaku berdenyut-denyut, badanku terasa berat. Mungkin, andai anggota tubuhku bisa bicara, mereka ingin aku tetap tinggal di kamarku, dan tidur. Tetapi aku tidak peduli, aku hanya terus menuruti kakiku yang terus melangkah sesuai kata hati.

Semilir angin musim semi dan dinginnya tanah yang kupijak berhasil mengirimkan sinyal ke otakku bahwa aku ada di bukit Dandelion, tempat favorit dan juga tempat penuh kenangan antara aku dan Adrik. Rasa perih di kaki memaksaku untuk duduk. Aku baru sadar, ternyata aku datang ke tempat ini tanpa alas kaki. Pantas saja, ada luka dan darah di ujung ibu jari kakiku. Mungkin, tadi kakiku berhasil menyandung sesuatu. Entah, aku juga tidak tahu. Di tempat ini, air mataku berhasil keluar lagi. Aku teringat saat pertama kali aku menemukan tempat ini. Betapa bahagianya aku kala itu.

***

Kala itu aku adalah sosok gadis kecil berumur delapan tahun yang sedang marah dengan orang tuaku. Aku ngambek dan kesal lantaran aku tidak mau pindah ke tempat ini yang merupakan pinggiran kota. Saat itu, sering kali aku kabur dari rumah hanya untuk membuat orang tuaku kesal. Dengan begitu, aku berharap orang tuaku akan menurutiku untuk kembali pindah ke kota.

Hari itu, aku kembali kabur dari rumah setelah lagi-lagi orang tuaku tidak mendengarkanku. Aku berlari keluar dari pintu belakang rumah menuju kebun yang langsung menyambutku dengan rindangnya rumput dan pepohonan. Saat itu, kaki kecilku tidak sedikitpun kelelahan berlari ke jalan yang sedikit menanjak. Tidak beberapa lama, aku sampai ke tempat ini. Tempat yang ditumbuhi dengan beberapa pohon Oak yang rindang, rumput hijau, dan hamparan bunga liar. Dari banyaknya bunga liar yang tumbuh di sini, yang paling dominan adalah Dandelion putih. Saat itu aku merasa mulai menemukan sesuatu yang menarik dari tempat tinggal baruku.

Saat aku sedang duduk di bawah pohon dan mencabuti bunga liar dengan asal, tiba-tiba ada anak laki-laki yang entah dari mana. “Kenapa kau cabuti bunganya?” Tanyanya kala itu.

Dengan tatapan yang sama sekali tidak ramah aku menjawab, “Aku sedang kesal.”

“Apakah bunga itu yang membuatmu kesal?” Katanya. Benar, bunga-bunga ini sama sekali tidak bersalah, batinku waktu itu. Sejak saat itu, aku menjadi berteman denganya. Adrik. Dia juga yang memberikan nama pada tempat ini. Karena bunga Dandelion adalah bunga yang paling banyak di tempat ini, maka Adrik menyebut tempat ini sebagai bukit Dandelion. Sejak saat itulah kami sering datang ke tempat ini. Hanya untuk sekedar bermain, melepas lelah, ataupun marah. Saat kita sudah dewasa, tidak jarang pula aku dan Adrik menyelesaikan masalah yang kita miliki di tempat ini.

“Fi, Fio, bangun! Kalau mau tidur kenapa kau datang ke tempat ini?” Tanya Adrik masih dengan seragam Junior High School-nya. Aku tahu, begitu pulang Adrik langsung ke tempat ini. “Loh, kok nangis, tidak apa-apa semuanya sudah baik-baik saja,” kata Adrik sambil mengusap lembut air mataku. Waktu itu, aku juga tidak tahu kenapa aku menangis, yang pasti bukan karena tidak bisa pulang sekolah bersama Adrik lantaran dirinya di panggil kepala sekolah akibat berkelahi. Dan parahnya lagi, berkelahi demi membelaku.

“Aku mencarimu, tapi kata ibumu kamu sedang pergi. Dan benar dugaanku, kamu ada di tempat ini.” Katanya sambil merebahkan tubuhnya di atas rerumputan. Di sampingku.

“Adrik, aku bermimpi, dan sepertinya mimpiku ini bisa benar-benar aku percayai.”

“Benarkah, mimpi macam apa itu?” Tanyanya penasaran.

“Kalau kita menemukan bunga Dandelion putih yang besarnya sama dengan satu kepalan tangan kita, maka kau bisa meminta apa pun permintaanmu.”

Mendengar ucapanku bukanya menanggapi, Adrik malah mulai tertawa. “Eh, dengar dulu, aku belum selesai bicara.” Rengekku.

“Baiklah-baiklah, silahkan lanjutkan.”

“Setelah kau menemukan bunga itu, tiuplah sambil menengadah menghadap langit. Tiuplah sekuat tenaga. Dan jika dalam satu tiupan Dandelionmu terbang tak bersisa, selamat kamu berhasil. Maka tundukan kepalamu, pejamkan mata, dan ucapkan perhomonanmu dalam hati. Sekali lagi sekuat tenaga.” Kataku antusias.

“Mimpimu benar-benar lucu.” Adrik terlihat ragu dengan apa yang baru saja aku ucapkan.

“Kamu tidak percaya ya?” Sungutku. “Kau tahu, ada seorang malaikat yang memberitahku. Katanya, jika dalam sekali waktu kau bisa meniup Dandilonmu tanpa sisa, maka salah satu dari butiran bunga Dandelionmu akan terbang ke langit untuk mengantarkan pesan permohonan kepada para malaikat.”

Mendengar kata-kataku, Adrik langsung duduk dan tertawa terbahak-bahak. Sambil mengusap kepalaku dia berkata, “Baiklah, sekarang waktunya bangun dan menjadi dewasa, anak kecil.”

Mendengar ucapannya aku menjadi kesal. Aku paling tidak suka dikatakan anak kecil, terlebih lagi oleh dirinya. “Eh, tidakkah kau penasaran seperti apa rupa malaikatnya?” Aku berusaha mengentikan tawanya.

“Tidak ada hal seperti itu Fio,” Adrik berkata sambil memegangi perutnya yang kaku akibat terus tertawa. Padahal kata-kataku sama sekali tidak lucu menurutku. Dan yang aku katakan benar adanya, dalam tidurku aku bertemu malaikat. Sungguh, malaikatnya sangat tampan.

***

Aku kembali tersadar ke keadaanku saat ini. Entah sudah berapa lama aku duduk di tempat ini. Matahari juga sudah mulai agak tinggi. Sekarang mungkin sekitar pukul delapan pagi. Di musim semi yang baru mulai terjadi beberapa hari, bukit ini tidak banyak memiliki Dandelion. Tapi tetap, kita bisa menemukanya. Satu dua ada yang sudah mulai mekar. Teringat bunga Dandelion, refleks tubuhku berdiri. Aku berusaha mencari Dandelion yang besarnya sama dengan genggaman tanganku. Setelah beberapa lama aku tidak juga menemukannya, aku mulai menangis lagi. Diriku benar-benar bodoh, mana mungkin aku bisa menemukanya. Seperti yang aku katakan, Dandelionya belum banyak. Buku-buku jari tanganku keriput akibat kedinginan, gaun berdukaku kini tidak lagi hitam melainkan coklat akibat aku duduk sembarangan. Aku sudah lelah dan hampir menyerah. Namun, tiba-tiba mataku menangkap sesuatu yang menarik di bawah lubang batang pohon Oax yang paling besar. Dandelion. Betapa bahagianya aku, karena ukuranya benar-benar sama dengan satu kepalan tanganku. Aku mengambilnya dengan penuh hati-hati. Setelah Dandelion ada di tanganku, aku melakukan persis seperti kata malaikat di mimpiku dulu. Ku pejamkan mataku dan berharap Adrik kembali. Aku ingin Adrik kembali. Dengan apapun itu, aku rela menukarnya asal dia bisa kembali ke dunia. Kataku dalam hati.

Mungkin kalau saat ini ada orang yang melihatku, aku bakal dikira orang gila. Tapi biarlah, aku tidak peduli. Setelah meniup Dandelion, hatiku sedikit tenang seakan-akan aku masih memiliki harapan dan kesempatan. Kesempatan untuk melihat Adrik lagi. Sambil mengusap tanah di bagian ujung gaunku, aku mulai berjalan bermaksud kembali kerumah. Baru beberapa langkah, aku dengar ada seseorang memenggilku dengan lembut.

“Fio.” Mendengarnya aku sontak menoleh. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Benarkah? Aku mencubit tanganku sendiri. Sakit. Berarti ini bukan mimpi. Aku melihat dia ada di sana. Ya, dia, malaikat yang datang ke mimpiku dulu.

“Aku datang untuk mengabulkan permintaanmu.”

“Benarkah?”

“Permintaanmu sangat rumit sehingga tidak bisa langsung dikabulkan begitu saja, itu akan menyalahi aturan takdir. Tapi tetap, aku akan memberikan satu kali kesempatan untukmu membawa Adrik kembali. Aku akan mengirimu ke masa lalu. Di sana, kamu harus berusaha sekuat tenaga agar Adrik tidak menemui ajalnya.”

“Baiklah apapun akan aku lakukan, segera kirim aku ke masa lalu itu.”

“Seperti yang kau ketahui, di dunia ini semua ada yang namanya konsekuensi. Jika kau benar-benar kembali ke masa lalu dan berhasil mencegah Adrik untuk mati, artinya sesuatu di masa ini akan ada yang berubah. Karena takdir satu manusia selalu terkait dengan takdir manusia lainnya. Saat nanti kau kembali ke masa ini, Adrik akan benar-benar masih ada di dunia, hanya saja, mungkin dengan kehidupan yang berbeda. Bisa saja namamu tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Begitupun sebaliknya. Itu artinya, dengan kembali ke masa lalu berarti kamu menukar hidupmu yang sekarang dengan hidup yang baru. Hidup tanpa Adrik sebagai teman masa kecilmu.”

Mendengar kata-katanya, hatiku kecut. Siapkah aku dengan hidup yang baru, hidup tanpa Adrik. Setelah terdiam agak lama, akhirnya hatiku mantap dan memutuskan. Tidak apa jika namaku tidak ada dalam kamus hidupnya, tidak apa jika aku tidak pernah menjadi teman masa kecilnya, asalkan setelah ini, Adrik masih ada di dunia. Mengetahui fakta itu, hatiku sudah cukup bahagia.

Hanya dengan melihatku, malaikat tampan itu sudah tahu apa jawabanku. Sebelum benar-benar mengirimku ke masa lalu, malaikat itu berkata. “Nanti saat kau kembali, kau juga sama sekali tidak akan pernah mengingat kejadian ini.” Aku hanya mengangguk. Jika dalam kisah-kisah yang kubaca, seorang malaikat menggunakan tongkat atau apapun untuk mengabulkan permohonan, malaikat di depanku benar-benar berbeda. Dari tadi aku tidak melihatnya membawa apa-apa. Atau portal? Akankah malaikat ini membukakan sebuah portal untuk menuju masa lalu? Tidak juga. Mungkinkah ramuan? Ah, aku memang sudah gila. Di saat seperti ini aku malah teringat kisah-kisah fantasi favoritku.

Jika dari tadi malaikat tampan itu hanya diam dan mengamatiku dengan ekspresi muka yang entah apa artinya, kini dia berjalan maju ke hadapanku. Dia berdiri begitu dekat. Hm…wanginya sangat harum. Bodoh, lagi-lagi otakku berpikir untuk hal yang tidak penting. Sebelum akhirnya dia menunduk dan menciumku, malaikat tampan itu berkata sambil mengedipkan sebelah matanya, “Ingat, benang takdir manusia akan selalu menemukan pemiliknya. Semoga berhasil.”

***

Aku benar-benar sudah kebanyakan mengkonsumsi fantasi. Tadi, sebelum datang ke tempat ini, kupikir aku akan dikirim ke hari pernikahanku. Dengan begitu, aku bisa menyuruh orang lain untuk menjemput adikku di bandara. Atau, hari di mana saat kita masih sibuk dengan acara persipan pernikahan. Aku pikir aku bisa langsung memluk Adrik begitu sampai ke masa ini, tapi apa, aku sama sekali tidak bisa melakukannya karena sekarang aku entah menjadi siapa.

Sekarang aku adalah sosok pria gembul botak dengan usia kira-kira lima puluh tahun. Aku bisa mencium aroma keringat yang menyengat dari badanku saat ini. Tapi entah kenapa aku biasa saja. Pakaianku lusuh dan terlihat kumuh. Apa-apaan ini, kalau begini bagaimana aku bisa menemui Addrik-ku? Ketika aku sedang bingung, tiba-tiba ada seorang anak kecil berdiri di hadapanku. Dirinya sama lusuhnya denganku, mungkin malah lebih parah. Sambil memegangi perutnya yang terlihat menderita, anak itu meminta uang padaku. Lah, mana aku punya uang. Aku berdiri sambil meraba-raba tubuhku sendiri, siapa tahu aku memiliki apa yang di minta anak itu. Benar saja, ada sesuatu yang menyembul dari saku belakang celanaku. Langsung saja aku ambil dompet yang ada di sana. Wow, walaupun aku lusuh, aku memiliki banyak uang ternyata.

Setelah kuberi uang, anak kecil itu langsung pergi dari hadapanku. Karena aku penasaran, maka aku buka-buka dompet si pemilik tubuh ini. Aku menemukan identitas di sana.

Nama : Yakov Jakop

            Umur : 55 th

            Kota Asal: Veidas

Gol. Darah : A

Aku berhasil mengetahui tanggal berapa hari ini dari sesorang yang tadi kutanyai. 7 Januari, itu artinya hari ini adalah hari di mana Adrik akan meninggal dunia. Sekarang pukul dua siang, yang artinya masih ada waktu tiga jam lagi sebelum Adrik meninggal dunia. Langsung saja, aku berusaha menaiki Metro menuju tempat tinggalku.

Sial, Metro sedang tidak beroperasi, begitupun dengan angkutan umum lainya. Ah, padahal aku cuma butuh waktu satu jam untuk sampai ke rumahku. Kata petugas Metro tadi, ini terjadi karena adanya ledakan bom di salah satu konser penyanyi terkenal yang diadakan di dekat sini. Banyak sekali korban dan kerusakan yang menyebabkan semuanya kacau. Saat ini juga, aku kembali menjadi manusia tidak berguna. Aku telah berhasil kembali ke masa lalu, tapi aku tidak berhasil melakukan apa-apa.

Aku hanya duduk diam sambil terus mengutuk ledakan bom yang terjadi di saat seperti ini. Seratus persen aku memang bodoh, kenapa otakku tidak berfungsi dari tadi, ini kan Madas, yang artinya, hanya dengan lima belas menit aku bisa sampai ke bandara. Ah, tapi apa gunanya, Adrik kan mengalami kecelakaan sebelum dirinya sampai di bandara. Kesal….

Saat aku sudah mulai lelah dan tidak tahu apa yang harus ku lakukan, tiba-tiba aku teringat penyebab utama Adrik meninggal dunia. Adrik meninggal karena terlalu banyak kehilangan darah. Dokter tidak bisa menolong akibat kurangnya pendonor darah. Aku ingat, waktu itu dokter berkata, banyak sekali korban ledakan bom yang juga membutuhkan darah, sehingga menyebabkan berbagai rumah sakit kekurangan pasokan darah.

Sekarang aku tahu kenapa malaikat memilihkan tubuh ini untukku. Menurut informasi yang aku dapatkan, dari tempatku sekarang ini ke rumah sakit tempat Adrik di rawat, aku hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit jika menggunakan Metro dan 45 menit jika berjalan kaki. Tidak menunggu lama, karena memang waktuku sudah tidak lama, aku berlari menuju arah yang ditunjukkan bapak petugas Metro tadi. Terimakasih kepada pemilik tubuh ini, karena aku sama sekali tidak merasa lelah.

Sesampainya di rumah sakit, waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 sore. Artinya Adrik sudah dirawat di rumah sakit ini sejak 30 menit lalu. Aku langsung berlari menuju bangsal tempat Adrik di rawat. Aku melewati setiap lorong rumah sakit dengan pandangan ngeri. Ternyata banyak juga para korban bom yang di bawa ke rumah sakit ini. Bagaimana waktu itu aku tidak menyadarinya? Mungkin waktu itu aku terlalu bersedih dengan apa yang menimpa Adrikku.

Aku melihat keluargaku sedang bingung. Adikku terlihat lelah dan dengan raut muka yang mengatakan ‘Ini salahku,’ sedang duduk di sampingku yang waktu itu hanya diam membisu dengan wajah yang sangat pucat. Melihat diriku yang saat itu, diriku yang saat ini ada di tubuh bapak tua, juga ikut bersedih. Ku dengar dokter sedang memberikan pengertian kepada ibuku dan ibu Adrik mengenai keadaan Adrik. Aku juga mendengar dokter berkata mengenai tidak adanya pasokan darah golongan A. Thanks Godness, mendengar hal itu aku langsung menghampiri mereka. “Aku bergolongan darah A.” Sontak saja keluargaku menatapku dengan bingung. Ku lirik, adikku yang juga memberikan tatapan bingung sekaligus lega ke arahku. Diriku yang waktu itu juga menatapku dengan penuh harap.

Hatiku lega karena setelah pengecekan tadi, tubuhku di nyatakan sehat dan bisa menjadi pendonor untuk Adrik. Sekarang aku sedang duduk di depan ruang operasi dengan rasa was-was. Apakah ini akan berhasil? Jika ini adalah waktu itu, maka sebentar lagi dokter akan keluar dengan kabar yang sama sekali tidak ingin aku dengar. Ku lirik diriku yang waktu itu masih diam dengan beruarai air mata.

Aku mendengar suara derap langkah dokter dari dalam ruang operasi. Ku mohon, semoga berhasil, please, batinku. Dokter langsung memanggil keluargaku. Ingin sekali aku ikut mendekat, tapi mereka pasti bakal berpikir aneh tentangku, bukan, maksudku tentang pemilik tubuh ini. Akhirnya aku hanya bisa menunggu.

Setelah bercakap-cakap, dokter langsung meninggalkan keluargaku, dan keluargaku kembali berkumpul di depan ruang operasi sambil menunggu Adrik di pindahkan ke ruang ICU. Terimakasih, ternyata aku bisa menyelamatkannya. Tiba-tiba diriku yang waktu itu, berterimakasih sambil menggenggam tanganku dengan erat. “Terimakasih banyak, kalau bukan karena Anda, aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada suamiku.” Aneh rasanya mendapat ucapan terimakasih dari diri sendiri.

***

“Kak, kak… bangun. Masa tidur di sini, ayo kita pulang.” Rengek Fia adikku yang masih duduk di bangku Senior High School. Aku mengerjapkan mata, entah kenapa wajahku di penuhi dengan air mata. “Kok kakak nangis, ngimpi buruk ya?” Tanya Fia padaku begitu melihat aku berurai air mata. Aku hanya terdiam, karena aku memang tidak mengerti.

“Ayo ah, pulang, kalau kakak libur kuliah kan bisa pulang dan datang ke bukit ini lagi.” Fia bangkit sambil menarik tanganku. Aku pun patuh dan mengikutinya begitu saja. Ketika Fia berhenti untuk memetik bunga kesukaanya, aku menoleh. Ku tatap bukit Dandelion tempat favoritku dan juga adikku. Aneh, aku merasa kehilangan sesuatu di sana. Tapi, apa?

***

Ini sudah tiga bulan sejak aku pulang ke rumah terakhir kali. Tugas kuliahku begitu banyak sampai tidak ada waktu sedikitpun untuk pulang ke rumah. Padahal, ingin sekali aku datang ke bukit Dandelion. Aku juga tidak tahu kenapa aku selalu merindukan tempat itu. Padahal sama sekali tidak ada sesuatu atau pun kejadian yang spesial berkaitan dengan bukit itu. Tetapi, jika berada di sana aku merasa seolah-olah benar-benar bisa menikmati hidupku. Dan aku benar-benar bahagia karenanya.

Sesampainya di rumah, kulihat ibuku sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita. Kelihatanya, umurnya sekitaran umur ibuku. Melihatku pulang ibuku langsung bahagia dan memelukku. Ibuku membawaku masuk dan langsung mengajakku ke ruang makan.

“Ibu, aku mau ganti baju dulu.”

“Baiklah, tapi langsung ke sini ya, ibu masak makanan kesukaanmu.”

Begitu kembali ke ruang makan, aku sedikit bingung dengan begitu banyaknya makanan yang dihidangkan oleh ibuku.

“Kenapa ibu berlebihan, kan hanya tiga bulan aku tidak pulang.”

“Siapa bilang ini semua untukmu, ini untuk tetangga baru kita.”

Mendengar kata tetangga baru, aku sedikit tertarik. “Jadi, rumah samping kita yang sudah kosong selama lima tahun akhirnya ada yang menempati?”

“Iya, pas kamu pulang tadi ibu sedang bercakap-cakap dengan tetangga baru kita. Orangnya ramah loh.”

Aku tidak memedulikan ibu yang terus memuji-muji tetangga baru. Aku hanya fokus dengan makanan yang ada di depanku.

“Fio, jangan makan dulu. Ini antarkan dulu ke tetangga baru kita.”

Ih ibu, katanya tadi langsung suruh kesini, untuk makan kan?”

“Ibu, nyuruh kamu cepat ke sini supaya kamu mengantarkan makanan ke tetangga baru kita.”

Aku sedikit kesal. Aku tidak mendengarkan apa yang ibu katakan. Aku hanya mengambil makanan untuk tetangga baru, dan langsung menuju ke rumahnya. Sesampainya di depan rumah yang jaraknya tidak lebih banyak dari dua belas langkah, aku sedikit terkejut. Rumah yang dulu terlihat rusak dan menyeramkan, kini terlihat bersih dan indah. Aku langsung memencet bel yang tertempel di pintu. Dua kali, belum ada seorangpun yang keluar. Aku mulai kesal, ku pencet lagi dua kali dengan waktu bersamaan. Masih tidak ada respon. Aku menyerah dan bermaksud untuk kembali ke rumah sebelum suara seseorang menghentikanku.

“Maaf, ibuku sedang keluar dan tadi aku sedang ada di kamar mandi. Ada yang bisa aku bantu?” Tanya cowok tampan yang berdiri di hadapanku.

Uhm… ini ada makanan dari ibuku, makanan selamat datang.” Kenapa suaraku bergetar? Tidak biasanya aku menjadi orang yang kikuk. Apa karena dia tampan? Ah, aku sudah gila. Aku bukan tipe orang yang akan peduli dengan seseorang hanya karena dia tampan.

Wah, terimakasih banyak. Semoga, ke depannya kita bisa punya hubungan yang baik. Maksudku sebagai tetangga.” Katanya sambil menyuguhkan senyuman yang indah.

“Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu.”

“Tunggu, siapa namamu? Oh maaf, maksudku, namaku Adrik, siapa namamu?”

Entah kenapa hatiku bahagia hanya dengan mengetahui dia menanyakan namaku. Perasaan aneh yang selama ini selalu bersamaku, perasaan kehilangan tanpa mengerti apa yang hilang, perasaan merindukan tanpa mengerti siapa yang aku rindukan, kini hilang. Semua itu tidak mungkin ada hubungannya dengan orang ini bukan?

“Namaku, Fio.”

            “Baiklah Fio, marilah kita berteman,” lagi-lagi dia menunjukkan senyum yang benar-benar menawan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s