Sebilah Pisau

8f143d4b0e202b351c46b0c771051e33--bloody-mary-gore

Kau terus saja tersenyum dengan sinis. Raut wajahmu begitu menggambarkan kepuasan dan keberingasan. Sesekali kau menjilat pisau penuh darah yang terlihat tajam dan semakin mencekam. Sepertinya kau sudah lupa, berapa kali kau menggunakan pisau itu.

Tubuhmu terlihat lelah. Namun naluri liarmu mendorongmu untuk terus menyelesaikan pekerjaanmu saat itu. Beberapa kali kau terlihat mondar-mandir mengitari meja di mana sesosok mayat tergeletak di sana. Sepertinya kau terlihat bingung, harus memotong dari bagian apa.

Kau terlihat sudah memutuskan. Saat itu, kau mendekati mayat gadis ayu yang dengan iba terus menatapmu. Namun kau tidak peduli, karena memang kau tak lagi memiliki sesuatu yang disebut dengan hati.

Dengan keras, kau menarik daun telinga gadis tak bernyawa itu. Selanjutnya, kau mulai memainkan pisaumu. Sungguh kau terlihat sangat mahir. Dan lagi, wajahmu menggambarkan kepuasan dan kebahagiaan.

Dengan detail dan sangat teliti, kau berhasil memisahkan antara daging dan kulit, serta daging dan tulang. Tidak lupa pula kau menyatukan bagian tubuh sesuai pasangannya. Tangan dengan tangan dan kaki dengan kaki. Kemuadian kau bungkus bagian-bagian tubuh itu, sendiri-sendiri.

Kau masuk ke ruangan yang begitu gelap dan pengap. Bukan untuk menyendiri, melainkan untuk menyimpan bahan makananmu untuk beberapa hari nanti. Dengan begitu rapat kau menutup daging-daging yang telah kau kuliti. Tidak lupa kau kubur dagingmu dengan balikan-balokan es di atasnya. Ternyata kau menggunakan bantuan es untung menjaga keawetan persediaan makananmu.

Kau menuju ruang keluaraga rumahmu. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana karena memang kau satu-satunya penghuninya. Di atas meja sudah tersedia semangkuk besar makanan favoritmu. Sup Jari, begitu kau memanggil makanan itu. Sup itu tidak lagi hangat, namun itu tidak menghilangkan semangatmu untuk terus menyantap. Dengan detail kau mengunyah setiap jari yang ada di supmu. Kau begitu lahap. Ah, sepertinya kau mendapat kesusahan saat mengunyah ibu jari kaki. Kau terus berusaha dan berusaha, sampai akhirnya jari kaki hanya tinggal sisa tulangnya saja.

Selesai makan kau kembali ke ruang kerjamu dan membereskan sisa pekerjaanmu. Kau diam sejenak dan berfikir β€œAh, untuk beberapa hari ini, aku tak perlu mencari bahan makanan lagi.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s